Salah Kaprah tentang Keseragaman Kultur dalam Merekrut Karyawan

Salah Kaprah tentang Keseragaman Kultur dalam Merekrut Karyawan

 

Kebinekaan, imigrasi, dan kultur perusahaan. Tiga hal ini adalah topik yang belakangan sedang jadi pembicaraan hangat. Di tengah iklim politik yang bergejolak (Brexit, isu imigrasi di Amerika, dan sebagainya) serta makin meruncingnya perselisihan di masyarakat (setidaknya demikian yang ditunjukkan oleh sejumlah media), bagaimana cara kita, sebagai pelaku bisnis, mendukung kebinekaan? Haruskah kita melakukannya?

Bila kamu rajin mengikuti berita, kamu mungkin menyadari bahwa sedang terjadi pergeseran perilaku pada manusia di seluruh dunia. Banyak juga komentar tentang nilai dan risiko pergeseran perilaku tersebut.

Dunia sedang berubah, tak peduli apa pun paham atau kepercayaanmu. Saat ini banyak perdebatan soal perbatasan negara, kedaulatan, atau kewarganegaraan. Tapi masyarakat harus sadar bahwa internet telah menciptakan dunia tanpa batas, dan perubahan ini tidak bisa diputar balik.

Sebuah survei yang dilakukan oleh Pew Research Center menemukan bahwa masyarakat umumnya tidak terlalu mempermasalahkan tanah kelahiran. Hanya 13 persen penduduk Australia, 21 persen penduduk Kanada, 32 persen penduduk Amerika Serikat, dan sekitar 33 persen penduduk Eropa yang berkata bahwa seorang warga negara sejati haruslah orang yang lahir di tanah airnya.

Keseragaman kultur semakin lama menjadi semakin tidak penting dalam konteks kebangsaan. Jadi mengapa kita terus menginginkannya ada di dalam perusahaan?

Manajer atau CEO sering kali memprioritaskan kesesuaian kultur dibandingkan kemampuan ketika merekrut karyawan. Memang benar, kita semua ingin punya kolega yang bisa diajak nongkrong bareng sepulang kerja, dan kita berpikir cara mencapainya adalah dengan merekrut orang yang cocok dengan kultur perusahaan.

Meeting | Photo

Sumber foto: Howard Jefferson

Tapi apakah hal itu benar? Jangan-jangan kultur perusahaan hanyalah alasan untuk merekrut orang-orang yang kita rasa mirip dengan kita? Sepertinya memang demikian.

Baru-baru ini majalah Fortune menerbitkan artikel berjudul “Bagaimana ‘Kesesuaian Kultur’ Menjadi Alasan untuk Perekrutan yang Diskriminatif”. Saya rasa sebagian besar dari kita pernah merasakannya. Kita memenuhi kualifikasi tapi gagal mendapat pekerjaan karena kita tidak pergi ke “sekolah yang tepat”, atau mungkin tidak memiliki “hobi yang tepat”.

Kasta, ras, agama, gender, semuanya pernah digunakan sebagai alasan untuk tidak merekrut kita. Apakah ini sudah kodrat manusia? Ya. Tapi apakah ini membantu sebuah perusahaan merekrut karyawan terbaik? Belum tentu.

Studi yang dilakukan oleh McKinsey menunjukkan bahwa perusahaan yang menempati peringkat tinggi dalam hal keberagaman gender, ras, dan etnis, umumnya juga memiliki keuntungan finansial di atas rata-rata. Sebaliknya, perusahaan dengan rapor keberagaman yang buruk juga secara statistik lebih sulit mencapai keuntungan di atas rata-rata. Kebinekaan juga diyakini membuat suatu perusahaan lebih kompetitif, sehingga pangsa pasar perusahaan tersebut meningkat dari waktu ke waktu.

Bila ingin punya daya saing, tingkatkan diversitas tenaga kerja

Sebagian besar orang meningkatkan kebinekaan di perusahaan lewat cara-cara yang paling mudah, misalnya merekrut tenaga kerja perempuan atau mencari kandidat yang mewakili ras minoritas di wilayah sekitar. Tapi seberapa sering mereka mencari diversitas kultur sampai ke luar negeri?

Bagi perusahaan-perusahaan dunia yang paling sukses dan visioner, merekrut secara internasional adalah hal yang biasa. Ketika merekrut dari dalam kota atau negeri, kemungkinan kamu akan menemukan orang-orang berpikiran serupa, meskipun mereka meningkatkan keragaman budaya di perusahaanmu. Mari berpikir melampaui batas-batas negara.

Multiethnic Meeting | Photo

Sumber foto: Maryland GovPics

Riset terbaru menemukan bahwa perbedaan sosial di antara anggota sebuah grup tak hanya memunculkan cara pandang atau pendekatan baru. Dalam studi ini, grup yang beragam memiliki performa jauh di atas grup yang seragam.

Bukan karena banyaknya ide baru, tapi karena keberagaman memicu pemrosesan informasi yang lebih hati-hati—suatu hal yang tak ada dalam grup homogen. Dengan adanya keberagaman, kondisi dalam grup akan menjadi canggung, dan kebutuhan untuk mencairkan suasana akan menghasilkan proses pemecahan masalah yang lebih baik.

Dengan kata lain, menambahkan suatu ide yang melenceng atau sama sekali baru ke dalam sebuah grup homogen akan menghasilkan guncangan yang akhirnya memunculkan hasil lebih baik.

Jadi bagaimana sebaiknya kita merekrut?

Membangun perusahaan yang kompetitif di pasar global dalam era internet artinya kamu bersaing memperebutkan orang-orang terbaik dari seluruh dunia.

Berpikirlah melampaui batas negara, terobos segala macam rintangan. Menambahkan orang terbaik ke dalam tim artinya kamu keluar dari zona nyaman. Saat ini, untuk membangun tim yang kompetitif secara global, kita perlu membangun jembatan lintas negara di seluruh dunia.

Bakat ada di mana-mana. Jangan membatasi perekrutan ke mereka yang kebetulan ada di dekat tempat tinggalmu. Lebarkan kampanye perekrutanmu ke ranah global, dan berikan inspirasi pada orang-orang terbaik dari seluruh dunia untuk bergabung dengan timmu.

 

(Sumber informasi : id.techinasia.com)


Organisasi Anda membutuhkan konsultan dalam bidang sistem informasi ?

Andromedia Indonesia
Excellent Partnership Commitment

We provide various advisory solution such as IT Business Plan, Master Plan & Architecture, Monitoring, Service Management, and Project Management to enhance and enable system solution to cope with business process change or re-engineering.

Contact us and get your best IT solution for your business.
Phone: (+6231) 6001-8666
email: [email protected]
fb:  @andromediaindonesia
www.andromedia.co.id

Share with your friends









Submit