Budaya Perusahaan Jangan untuk Keren-Kerenan Semata

Budaya Perusahaan Jangan untuk Keren-Kerenan Semata

 

Istilah budaya perusahaan atau company culture sebetulnya bukan hal yang baru kita dengar belakangan ini. Hanya saja dengan semakin banyaknya bermunculan perusahaan rintisan berbasis teknologi atau yang kadang disebut sebagai perusahaan startup (walaupun ya startup tak mesti tentang teknologi juga sih), istilah ini menjadi lebih banyak dikenal orang.

Di korporasi besar, istilah ini sudah menjadi hal yang biasa. Yang menarik perhatian saya adalah bagaimana budaya perusahaan itu diposisikan dalam kehidupan sehari-hari dalam suatu perusahaan.

Terkadang saya bertanya, apakah memang semua poin yang ada dalam budaya perusahaan itu benar-benar diaplikasikan dalam kehidupan dan proses kerja di perusahaan tersebut? Atau hanya menjadi jargon “basi” (seperti “millennial“) yang sudah terlalu sering dipakai dan akhirnya hanya untuk keren-kerenan saja? Bahkan jangan-jangan pembuatnya juga tidak mengerti maksudnya apa (mungkin lo).

Sebelum lebih panjang lagi, saya mau cerita sedikit tentang budaya perusahaan yang saya rasa bukan hanya omongan semata, tapi benar-benar diaplikasikan dalam kegiatan bekerja di perusahaan.

Pada tahun 2014 silam, saya mendapatkan kesempatan yang tidak akan saya lupakan seumur hidup. Saya bekerja di Google—tepatnya di Google Indonesia. Saat itu, saya dipercaya untuk menjadi Google+ Community Manager. Inilah proses belajar yang mungkin akan sulit didapatkan lagi di tempat lain.

Apakah hal yang dimaksud? Tidak lain dan tidak bukan adalah budaya perusahaan. Google tidak menjadikan budaya perusahaan sebagai omongan belaka biar terlihat keren. Sebaliknya, orang-orang di dalamnya menerapkan hal-hal mengagumkan supaya ya… menjadi keren!
Di balik kalimat “Don’t do evil” yang menjadi landasan budaya perusahaan, Google membuat kalimat tersebut merasuk dan tertanam di dalam hati dan pikiran setiap karyawannya.

Jaga kebersihan diri sendiri

kopi | foto

Sumber: Pexels

Kebersihan adalah hal paling mendasar yang sulit dilakukan setiap orang. Menariknya, Google mampu mempengaruhi semua orang yang sudah masuk ke area kerjanya untuk mengikuti peraturannya. Setiap piring dan sendok serta gelas atau apa pun yang dipakai untuk makan, selalu harus langsung dibersihkan dan ditempatkan pada tempat yang telah disediakan. Saat itu, saya selalu dididik bahwa office boy bukanlah sebagai asisten utama, tapi membantu ketika sangat dibutuhkan saja.

Setiap tamu yang makan di kafetaria Google mau tak mau harus mengikuti aturan yang sama. Membawa peralatan makan ke area tertentu, memisahkan sisa makanan dan menaruhnya dengan rapi. Tidak ada yang meninggalkan peralatan makan begitu saja di meja. Ini didikan paling berharga yang saya dapatkan. Dan sampai sekarang saya suka kesal sendiri kalau ada orang yang jorok dan tidak mau peduli dengan “peninggalannya” setelah makan.

Menghargai waktu orang lain

Jam Kerja | Waktu
Kegiatan sekecil apa pun di Google, termasuk makan siang, sudah dibiasakan terjadwal dengan baik di Google Calendar. Google Calendar sudah menjadi “tuhan” pengatur jadwal yang bisa kita atur sendiri. Hal ini dilakukan agar kita dapat mengatur segala sesuatu dengan baik agar tidak merugikan diri kita sendiri maupun orang lain.

Hal-hal seperti telat, jam karet dan lainnya yang biasa terjadi di lingkungan kerja justru jarang terjadi di Google. Kecuali ketika kami harus bertemu dengan partner eksternal, terkadang keterlambatan masih tidak bisa dihindari, biasanya dari pihak yang diajak meeting.

Sistem booking ruangan di Google pun sudah terhubung dengan Google Calendar dan kita harus tahu benar seberapa lama ruangan itu akan digunakan. Jangan sampai meeting tidak efektif dan efisien sehingga tidak memberikan kesempatan bagi orang lain untuk menggunakan ruangan tersebut. Ketepatan waktu saat memakai ruangan juga sangat diperhatikan.

Jika telat dari waktu yang ditentukan, ada kotak kecil untuk membayar denda Rp10 ribu. Alasannya sederhana, pasti ada orang lain yang sebetulnya ingin memakai ruangan itu, tapi karena kita telat, dia jadi terhambat. Didikan menghargai waktu ini membuat saya memiliki prinsip: before time, bukan on time.

Tidak rakus

Rasanya semua orang tahu kalau semua camilan dan makanan berat diberikan secara gratis 24/7. Jenisnya beragam, kamu tinggal pilih saja. Mulai dari jus segar (harus bikin sendiri, buah dan juicer saja yang disediakan), camilan sehat, minuman bersoda di kulkas (kulkas selalu diisi minuman ini. Tidak pernah kosong!), kadang ada wine dan bir, dan sebagainya.

Makan siang prasmanan dengan menu dari seluruh dunia serta camilan sore, mulai dari yang manis sampai asin. Menariknya, karyawan di Google bisa dibilang dapat mengonsumsinya dengan bijak. Malah kadang-kadang tidak ada yang memakannya—mungkin karena diet. Camilan itu lebih sering ditawarkan kepada tamu. Nah, biasanya ketika ditawarkan ke tamu, baru terlihat siapa saja yang rakus.

Kenapa saya membahas ini? Karena saya masih menemukan karyawan yang rakus ketika ada makanan gratis. Perilakunya seperti tidak dijaga, ibarat tidak ada hari esok untuk makan lagi. Semua ingin diambil, padahal tidak dimakan juga.

Percayalah, saya pernah bekerja di perusahaan dengan jatah camilan harian dua buah, tapi masih saja ada yang rakus mengambil lima. Saya kaget dan tidak tahu harus bilang apa. Kalau sudah begini, biasanya saya jadi kesal sendiri.

Menjadi problem solver

problem solver | ilustrasi

Sumber: GB Times

Di Google, kamu harus mencari tahu sendiri jalan keluar dari masalahmu. Jika mentok, kamu boleh bertanya dan meminta bantuan. Jadi kamu tidak perlu berkali-kali bertanya hal yang tidak terlalu penting. Ini akan melatihmu untuk punya insiatif dan berpikir kreatif.

Di kantor ini segala sesuatunya dipelajari dahulu sendiri. Cari masalahnya dan diskusikan dengan yang lain ketika kita butuh jawaban yang lebih tepat atau ketika ingin memvalidasi sebuah asumsi. Semua orang memiliki kesibukan sendiri, semua orang punya gol sendiri. Jadi cobalah belajar menghargai waktu orang  lain.

Semua orang diajarkan untuk menjadi problem solver, bukan menjadi karyawan yang selalu “disuapi” sehingga akhirnya jadi tidak bisa punya inisiatif sendiri dan sulit jadi kreatif.

Google tidak punya IT Support yang jalan ke sana kemari untuk dipanggil saat mungkin kamu cuma butuh mouse. Google tidak punya tukang kabel yang mungkin bisa disuruh hanya untuk memperbaiki kabel LAN kamu yang tidak terpasang dengan benar—tapi sudah bikin kamu panik tak karuan.

Untuk hardware atau aksesori, Google menyediakan sebuah sudut bernama Techstop. Memang ada personel yang berada di sana. Tapi untuk kantor-kantor di Asia, biasanya personel tidak akan mendedikasikan waktunya untuk berada di sana setiap hari.

Dia hanya akan datang sekitar satu bulan sekali untuk mengecek aset dan aksesori seperti keyboard, mouse, kabel penghubung VGA ke Macbook dan semacamnya. Bahkan lemari Techstop dibuka untuk umum supaya orang-orang bisa mengambil keperluannya sendiri setiap saat. Kami diberikan kebebasan dan tanggung jawab atas peralatan yang diambil. Hal ini mungkin tak banyak dilakukan di perusahaan di tanah air.

Jika butuh bantuan, IT Support di Google bisa dijangkau dengan chat. Para karyawan harus mengisi sebuah tiket agar nantinya dapat dibantu oleh tim terkait. Itu pun kita cukup mengikuti instruksinya dari layar saja. Semua peralatan kerja bisa dikendalikan secara remote, bahkan langsung dari Mountain View, California, Amerika Serikat.

Untuk melakukan install software pun tidak akan bisa sembarangan. Semua harus menunggu tim Support mengirimnya ke perangkat kerja kita dan akan terpasang secara otomatis.

Jadi tidak ada yang namanya anak bandel yang seenak jidat memasukkan program-program dengan crack code demi keperluan pribadi. Di sini, semuanya terkontrol dengan baik. Intinya adalah menjadi problem solver baik bagi diri sendiri maupun orang lain, serta belajar mandiri.

Kolaborasi, bukan sendiri-sendiri

Bekerja di Perusahaan Besar|Image 4
Didikan penggunaan Google Drive dalam kehidupan bekerja membuat saya memiliki pola pikir yang lebih luas dan berbeda. Sebelum di Google, saya hidup dengan Outlook dan Microsoft Office. Menyulitkan sekali!

Dengan Google Drive, kolaborasi kerja menjadi lebih mudah. Semuanya dapat terorganisasi dengan baik dan tidak sibuk kirim attachment tiap saat. Cara kerja ini juga membuat kita menghemat waktu orang lain. Kerja tidak sendirian, tapi berkolaborasi di waktu yang bersamaan. Kerja tim di sini bukan hanya jadi istilah dangkal dan biasa, tapi benar-benar diaplikasikan dengan baik.

Berpikir ringkas dan jelas

Di Google, hampir sulit ditemukan orang yang bicara berbelit-belit dengan pengantar yang panjang tak jelas ke mana ujungnya. Dulu, karena harus menyesuaikan dengan rekan kerja, gaya bicara dan berpikir saya pun tidak ringkas. Merencanakan meeting saja bahkan bisa lama tak jelas.

Sementara di Google, meeting pun harus sudah memiliki agenda diskusi. Setiap kali ada yang melenceng, anggota meeting lainnya akan mengembalikan diskusi ke jalurnya. Jika butuh penjelasan lebih rinci, makan akan diadakan meeting lanjutan di lain waktu atau dibuat catatan di dokumen proyek.

Semua orang bergerak cepat dan kami harus bisa menyesuaikan diri dengan kecepatan itu. Kami harus bisa menjelaskan ide dengan ringkas dan membuat orang lain paham dengan informasinya. Cara berbahasa dan gaya menjelaskan juga menjadi sangat berbeda. Segalanya menjadi sangat terstruktur, namun tetap disampaikan dengan santai.


Sebetulnya ada banyak hal yang bisa diceritakan. Selama setahun bekerja di Google, saya melihat ada banyak teman yang hanya melihat sisi indahnya saja—karena ada makanan gratis dan kantor yang bagus, misalnya. Padahal, kenyataannya lebih dari itu semua!

Saya belajar tentang cara berpikir baru, misalnya tentang mengapa Google menjadi perusahaan teknologi yang sangat besar. Semua itu tidak dimulai dari budaya perusahaan yang hanya jadi jargon belaka. Segalanya dimulai dari orang-orang yang dengan serius menjalankannya.

Budaya perusahaan bukan hanya sepatah dua patah kata yang ditampilkan di laman About Us. Bukan hanya sekadar cerita sang CEO yang dijual dari satu konferensi ke konferensi yang lain. Budaya perusahaan adalah tentang cara berpikir. Kalau budaya perusahaan tidak merasuk ke dalam diri, tentu ia bukanlah hal yang berguna.

 

(Sumber informasi : id.techinasia.com)


Organisasi Anda membutuhkan konsultan dalam bidang sistem informasi ?

Andromedia Indonesia
Excellent Partnership Commitment

We provide various advisory solution such as IT Business Plan, Master Plan & Architecture, Monitoring, Service Management, and Project Management to enhance and enable system solution to cope with business process change or re-engineering.

Contact us and get your best IT solution for your business.
Phone: (+6231) 6001-8666
email: [email protected]
fb:  @andromediaindonesia
www.andromedia.co.id

Share with your friends









Submit